Hutan Alami dan eksotisnya Gunung Rogojembangan Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah


There is a pleasure in the pathless woods; There is a rapture on the lonely shore; There is a society, where none intrudes; By the deep sea, and music its roar: I love not man the less, but Nature more. –Lord Byron-

Artinya:
Ada kebahagiaan di hutan yang belum terjamah; Ada kegairahan di pantai yang sunyi; Ada peradaban, dimana tak ada pengganggu; Di kedalaman lautan dan bisingnya suara musik; Aku tak lebih mencintai manusia, tapi lebih mencintai Alam.

Kalau kalian yang suka nonton film bertemakan petualang atau adventure, pasti akan menemukan kata-kata di atas dalam sebuah film. Film yang menurut saya sangat menginspirasi bagi orang yang suka berpetualang. Kalimat itu merupakan pembuka dari film yang berjudul Into The Wild. 

Walaupun ending nya pasti kalian bertanya-tanya, kenapa bisa begitu. Saya saranin kalian nonton film itu, sebab banyak nilai-nilai yang bisa didapatkan. Saya nggak akan bercerita panjang lebar tentang film itu, silahkan tonton sendiri. 

Saya disini hanya akan bercerita tentang pengalaman atau petualangan yang pernah kita berempat alami. Pada saat  itu misi kita mau merayakan kemerdekaan negara tercinta Republik Indonesia. Setelah dapet personil yang mau diajak bepergian dalam waktu beberapa hari, tapi kita belum tau tujuannya mau kemana. Seperti biasanya, kita itu orangnya nyari yang aneh-aneh. 

Beberapa tujuan telah ada dalam list, namun itu semua mainstream semua. Yang pasti tujuan kita itu naik gunung, tapi bleum tahu gunung mana. Akhirnya temen saya dapet satu ide gila yaitu kita akan mendaki gunung ke arah Barat, waktu itu domisili kita ada di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Semarang, 15 Agustus 2015
Awal dari sebuah perjalanan, dimana kita berempat: Saya , Eco, Roy, dan Acil adalah pemuda yang kebelet berpetualang dan akan melukis sejarah dalam ekspedisi yang ngga boleh ditiru atau disamain dengan yang lainnya. 

Sebab ini hanya terjadi sekali seumur hidup, juga karena kita berempat hidup dalam lingkungan dimana banyak uang bisa kemana-mana dan sedikit ngga bisa kemana-mana. Tapi kita berbeda, bahwa sedikit uang adalah sebuah anugerah karena kita akan memaksimalkan akal kita untuk kemana-mana. skip..

Kita sendiri sudah mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa selama perjalanan ini. Setiap mendaki gunung itu pasti ada tantangannya sendiri, begitupun dalam pendakian kali ini. 

Kali ini tujuan kita mendaki adalah ke Gunung Rogojembangan, Kabupaten Pekalongan. Seperti yang sudah-sudah, kita kalau mau naik gunung pasti bawa kendaraan pribadi. Namun kali ini berbeda, kita dari Semarang ke Basecamp akan menggunakan kendaraan umum. Hal berbeda dan menantang bagi kita.

Pada siangnya, kita sudah berjejer dipinggir jalan. Mencari bus yang akan membawa kita ke Pekalongan. Terik matahari seperti biasa menyengat kulit, tapi itu bukan sebuah masalah yang sulit. 

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kita menemukan bus jurusan ke Pekalongan. Mungkin bagi penumpang di bus menyebut kita gembel atau orang yang ngga punya tujuan hidup. Kita tidak peduli dengan hal itu, sebab kita sendiri tak pernah memikirkan orang yang tidak kita sukai, walaupun hanya sedetik.

Kalau kalian pernah naik bus Semarang-Pekalongan pasti sudah tau, bagaimana bang sopir menyetir kemudinya seperti apa. Saya gambarkan sedikit, walaupun body bus yang kita tumpangi ada beberapa yang kurang terawat, tapi soal kecepatan masih bisa ditandingkan sama mobil Formula 1. Dan juga, kita kaya sedang naik wahana roller coster atau kora-kora. 

Ongkos bus waktu itu Rp. 35.000,00 kalau ngga salah ingat. Butuh waktu 3 jam perjalanan pake bus, kita sudah sampai di Kota Pekalongan. 

Pepatah bilang “banyak teman, banyak rezeki” tapi kalau kita beda “satu teman baik, membuka banyak rezeki”. Ketika hari sudah mulai sore, Acil menelpon ke salah satu temennya, namanya Faza, berasal dari Pekalongan. 

Lalu kita diangkut ke rumah Faza. Jangan lupa untuk kenalan sesama pendaki, itu baru gw tau setelah ngobrol-ngobrol bahwa dia juga suka naik gunung. Rumah dia deket kawasan makam yang paling terkenal disana. Suasana Kota Santri, kita rasakan disini. Malamnya kita diajak untuk kopdar. 

Disini kita disuguhkan kopi yang sangat tersohor yaitu Kopi Tahlil. Saya ngga akan cerita rasanya kopi yang satu ini, kalian coba sendiri di Pekalongan. Kita nongkrong dan duduk2 di salah satu area yang menyediakan makanan dan minuman khas sana, sekalian cuci mata. 

Kemudian, kita menginap dirumah Faza. Rencananya kita akan ke Basecamp Gunung Rogojembangan yang berada di Desa Gumelem, Kecamatan Petungkrioyono tepat pada pagi harinya. 

Pekalongan, 16 Agustus 2015
Pukul 07.00 pagi, kita sudah siap melanjutkan perjalanan ke basecamp. Tak lupa kita mengucapkan banyak terima kasih dan pamit sama Faza yang udah baik hati memberikan waktu, tempat dan hidangannya. Dari rumah Faza, kita berempat harus menempuh beberapa kendaraan untuk sampai basecamp di Desa Gumelem. 

Pertama kita naik angkot untuk sampai di Kecamatan Doro. Setelah sampai di pasar Doro, kita harus naik kendaraan bak terbuka atau "Doplak" (Colt L 300) untuk sampai ke Kecamatan Petungkriyono. Orang sana menyebutnya Doplak, kendaraan yang sering dipake untuk mengangkut hasil kebun atau pertanian ataupun untuk mengangkut belanjaan penduduk yang ada di daerah Petungkriyono dan sekitarnya ke Pasar. 

Berhubung kita datang ke Pasar Doro itu terlalu pagi sekitar pukul 09.00, sedangkan Doplak itu sendiri baru datang dari daerah atas sekitar Petungkriyono dan sekitarnya. 

Menurut informasi, Doplak akan balik lagi ke daerah atas itu pas siang hari sekitar jam 11.00. Jadi, kita memutuskan untuk berjalan kaki saja, sekalian pemasanan mendaki. Kita berjalan sampai beberapa kilometer, tapi belum ada Doplak yang menuju ke Petungkriyono.

Selama berjalan kita terus ngasih kode "numpang” khas para backpacker pada kendaraan roda 4. Setelah kita berjalan di pinggir jalan aspal dan menanjak, akhirnya ada mobil bak terbuka yang berhenti di depan kita. 

Dengan satu komando dari sang sopir, kita berlari untuk naik di mobil itu. Keringat yang mengucur deras saat berjalan, kemudian hilang berkat semilir angin saat kita naik mobil bak terbuka.
ala backpacker
Long March
Lumayan dapet tumpangan gratis dalam hati, tapi itu hanya sebentar, sebab mobil itu beda arah, kita ke arah Petungkriyono sedangkan mobil itu ke arah lain. Tanpa lupa berterima kasih pada sopir yang sudah memberi tumpangannya, kita turun dari mobil itu dan berjalan lagi. Kalau ditotal kita mungkin sudah berjalan sekitar 10 km lebih. 

"Stop bang ceritanya!” “lha emang kenapa neng?” “neng mau tanya kondisi alam disana gimana bang?” “ohh.. itu mah gak usah ditanya lagi neng, disana banyak perkebunan sayur, hutannya masih alami, banyak curug juga neng” “woow.. gitu ya bang?” “iya neng, ya udah abang lanjut ceritanya nih keburu pemirsanya pada kabur.”

Selanjutnya Doplak yang kita tunggu pun datang dari arah pasar Doro. Selama dijalan menggunakan Doplak kita liat-liat hutan yang masih alami. Dipadukan dengan jalan yang berkelo-kelok dan menanjak semakin menambah keseruan perjalanan ini. 

Kita pun turun di pertigaan (lupa nama daerahnya), Doplak yang kita tumpangi berbeda arah lagi, dengan terpaksa kita turun. Dan kita harus jalan kaki lagi, karena belum ada kendaraan yang mau ke arah basecamp.

Kelokan dan tanjakan kita tempuh dengan berjalan kaki lagi. Sambil jalan kaki tidak lupa ngasih kode “numpang” ala backpacker. Keringat pun mengucur deras lagi, sebab siang itu matahari lagi asik bercengkrama disini. 

Setelah satu jam jalan kaki, kita dapet tumpangan, tanpa ragu kita langsung naik ke mobil bak terbuka. Ternyata jarak tempuh bila pake mobil itu cepet daripada jalan kaki. Hanya butuh 30 menit kita sudah sampe di jalan arah ke basecamp di Desa Gumelem. Tidak lupa bilang terima kasih sama pak sopirnya.
Kendaraan L 300
Doplak
Sesampainya di basecamp Gunung Rogojembangan pukul 16.00 sore, kita langsung registrasi. Oia, basecamp nya itu sendiri ada di rumah salah satu warga. 

Fasilitas juga lengkap mushola, kamar mandi, parkir dll. Sambil istirahat kita disini berbincang-bincang dulu, tanya-tanya tentang segala macam mulai dari kondisi alam baik gunung atau lainnya yang ada di sekitar basecamp, lalu trek pendakian, sampai bapak penjaga basecamp bercerita ke hal-hal mistis yang ada di sekitar daaerah ini. Waduuuh. 

Setelah dapet wejangan-wejangan dari bapak penjaga basecamp, kita siap-siap untuk mendaki alias jalan kaki lagi. Diawali dengan berdoa, kita mulai petualangan ini.

Dari basecamp kita melewati perumahan warga terus perkebunan yang berbatasan dengan hutan (alami) Gunung Rogojembangan. Trek selama di hutannya sangat bervariasi mulai dari menanjak, datar dan turunan. Namun yang paling kagum disini yaitu hutan alami dan masih jarang ada pendaki yang kesini, itu terlihat dari ilalang yang tumbuh tinggi2 sampai menghalangi jalur pendakian. 

Setelah agak jauh dari basecamp, terdengar suara adzan, lalu kita semua berhenti sejenak sambil istirahat. Menurut informasi, untuk naik ke Gunung Rogojembangan butuh waktu sekitar 4 jam lebih. 

Satu jam sebelum Puncak, hutan disini semakin kelihatan alaminya. Pohon-pohon tinggi yang tumbuh subur serta akar yang panjang menjadi teman selama pendakian. 

Pada salah satu spot, kita disuguhkan trek yang cukup terjal, dan untuk melewatinya kita seperti seperti naik tangga tapi tumpuan kaki pada akar-akar. Malam pun menyapa kita dalam gelapnya hutan yang eksotis ini. 

Untuk jenis pohonnya, gw kurang tau dan lupa juga. Suhu udara yang semakin dingin, tak menyurutkan semangat kita untuk mencapai puncak.
Curam
Trek pendakian
Sekitar pukul 21.00, kita sudah nyampe di Puncak Gunung Rogojembangan, 2177 mdpl. Kita melihat ada 2 tenda yang sudah terpasang oleh pendaki lain. Kita pun menyapa mereka, walaupun mereka sedang asik di dalam tendanya. Tak lupa kita pun mengucap rasa syukur sudah menginjakkan kaki disini. Tanpa menunggu lama, kita segera mendirikan tenda sebagai tempat istirahat. 

Setelah tenda berdiri kokoh, agenda selanjutnya yaitu memasak sambil srupuut kopi inspirasi. Ketika agenda telah dilaksanakan dengan sukses, kita segara tarik selimut lalu tidur.

17 Agustus 2015
Hiduplah Indonesia Raya...... itu adalah awal dari lagu kebangsaan Republik Indonesia. 

Tepat hari ini, seluruh negeri sedang merayakan kemerdekaannya. Walaupun sederhana kita merayakannya dengan penuh khidmat dan semangat jiwa pemuda yang tumbuh di darah ini, semakin menambah rasa cinta pada negeri ini “Indonesia”. 

Dengan suguhan alam di Puncak Gunung Rogojembangan, kita menikmatinya. Tanpa lupa bercengkrama dengan pendaki lain, kita pun akrab dalam obrolan khas para pendaki. Fyi, Puncak Rogojembangan mempunyai puncak sebesar lapangan bola basket, mungkin muat sekitar 5-7 tenda saja. Pada saat kita kesana juga cuma ada 10 orang, termasuk kita loh.
tenda
Morning
Tenda berjejer
Berkemah di Puncak
sedang berkemas untuk turun gunung
Packing
Pukul 08.00 lebih kita mulai mengemas barang-barang untuk kembali ke basecamp. Kita adalah orang terakhir yang ada di Puncak saat itu. Sebab pendaki yang lain sudah turun beberapa saat yang lalu. Ketika turun, kita bertemu lagi dengan 2 teman pendaki (Kang Ading dan Kang Brojol) yang tadi ketemu di puncak dan sedang asik menikmati hidangannya dipinggir jalan. Tanpa ragu, kita pun gabung dan ngobrol2 lagi. 

Dan alangkah beruntungnya, kita dapat tumpangan lagi dari beliau-beliau, tidak tanggung-tanggung kita dapat tumpangan langsung ke Semarang. Buat kita itu adalah sebuah rezeki yang tak terduga. 

Tiba dibasecamp, kita berempat bersama kang Ading dan kang Brojol bersiap untuk menuju Kota Atlas, Semarang. Dalam satu mobil yang sebenernya hanya muat lima orang saja, kita berenam pun segera meninggalkan basecamp Gunung Rogojembangan. 

Jalan yang dilalui ternyata berbeda dari yang kita lewati pas dari Kota Pekalongan mau ke Petungkriyono. Kalau dari Kota Pekalongan ke Semarang sama saja lewat pantura. 

Sekitar pukul 12.00, kita semua udah sampai di Semarang. Tak lupa kita mengucapkan banyak terima kasih sama Kang Ading yang udah memberi tumpangannya. Kita tak tahu kalau gak dapet tumpangan ke Semarang, mungkin kita akan jalan kaki lagi dengan rute Pekalongan-Semarang (maklum dompet udah tipis). Hehe.

Mungkin ini hanya secuil perjalanan kita berempat. Bagi kita, Perjalanan ini sungguh mengesankan dan mengasikkan. Menurut saya, kebelet berpetualang itu lebih menyiksa daripada kebelet itu tuh.you know lah.haha

Gunung Rogojembangan merupakan gunung yang masih asri dan eksotis banget, hanya orang lokal dan orang yang bener-bener kebelet berpetualang saja yang mau mencari sesuatu yang berbeda. Baiklah, saya kasih tau informasi tentang Gunung Rogojembangan ini, tapi dibawah ini ya.

1.
Nama
Gunung Rogojembangan
2.
Ketinggian
2117 mdpl (6.945 kaki)
3.
Lokasi
Perbatasan antara:
Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Pekalongan.
4.
Jalur Pendakian
a.   Desa Gumelem, Kec. Petungkriyono (Kab. Pekalongan).
b.   Desa Semego, Kec. Wanayasa (Banjarnegara)
5.
curug di sekitarnya
Curug Banteng, Curug Lawe, Curug, Kedunglumbu, Curug Sibedug.

6.
Waktu tempuh dari Basecamp Gumelem ke Puncak Gunung Rogojembangan sekitar
4,5 jam

Kunjungi juga cerita menarik dari Perjalanan imi, klik disini...

See you on the next adventures and thank you for reading...
Karena Sepi Terdapat Banyak Inspirasi.
Salam Lestari !!!


imi, Roi, Eco dan Acil

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Hutan Alami dan eksotisnya Gunung Rogojembangan Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah"

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "